Beberapa hari ini banyak temen-temen dari departemen akunting yang tanya-tanya masalah si Edwin. Whoa… darimana mereka tau masalah Edwin??? ternyata si Bos Soim yang cerita ke mereka semua. Awalnya gini, tiap pagi di departemen akunting punya acara brainstorming, yang ngisi acara gantian. Intinya di acara itu mereka sharing pengalaman, cerita, dan motivasi. Nah satu ketika yang ngomong giliran si Soim. Dia cerita mengenai jalan hidup si “Edwin Ulo” ini.
Sebagai teman dekatku yang juga pernah satu kantor di kantor sebelumnya, dia emang sering sharing cerita dengan aku. Salah satunya, aku pernah cerita ke dia mengenai si Edwin Ulo ini.
Tapi siapa dan bagaimanakah cerita si Edwin Ulo ini? beginilah ceritanya:
Konon pada jaman dahulu kala,….. disebuah daerah……… halah…….. palsu.
Ok, diawali perkenalanku dengan si Edwin saat aku masih kuliah di Kota Malang. Aku kenal sekitar tahun 98 kalo nggak 99 (sorry dah lupa tepatnya) di sebuah lembaga pendidikan luar sekolah (kursusan komputer) di daerah Jl. Ijen, Malang. Waktu itu kami kerja part time di situ.
Karena kami sama-sama termasuk orang yang ndak punya dan bukan pula spesies orang pinter,… jadi yang kami bisa ya kerja keras. Masih jauh dari konsep kerja cerdas….. panganan opo maneh iki
Nah….. ada satu orang nih di tempat kerja kami, panggil aja namanya bos Wily. Dia sering ngobrol dengan kita mengenai IT. Di beberapa obrolan itulah beliau sering cerita mengenai sertifikasi dan karir di dunia IT. Dari situlah kami mulai kenal dengan macem-macem sertifikasi IT, semacam CCNA, MCSE, Network+, dll……. Kami mulai terbuka wawasan bahwa kerja di IT ndak cuman sekedar itu-itu aja. Banyak banget peluang dan kesempatan yang bisa diraih. Waktu itu kami percaya bahwa dengan mengantongi sertifikasi, kesempatan itu bisa kami raih.
Disela-sela kerja,….. kami berdua mulai cari informasi dan konfirmasi dari internet mengenai cerita Bos Wily. Mantaf juga ternyata….. banyak cerita manis yang kami baca dan dengar dari internet.
Nah. itulah awalnya…..
Tapi, sertifikasi bukanlah cerita gampang buat kami. Waktu itu untuk sertifikasi CCNA, harga yang mesti dibayar mencapai 4 juta. Lha wong kost 60 ribu aja kita patungan, kok malah mbahas sertifikasi yang harganya jutaan. Tapi tekat kita udah bulat….. lebih tepatnya udah nekat.
beberapa tahun berjalan,…. belum ada tanda-tanda kemajuan. Kami masih berkutat di Malang, sibuk kerja sambil kuliah…. sertifikasi sedikit-demi-sedikit terlupakan dan jauh dari angan.
Sekitar tahun 2002, si Edwin lulus dan dan kali’ hokinya lagi bagus, dia di terima di sebuah perusahaan PMA di Jakarta sebagai technical support. Bermodal kesempatan untuk pindah ke jakarta, apalagi diterima di sebuah perusahaan PMA, membuat impian dia untuk meraih sertifikasi bangkit kembali. Dengan gaji waktu itu yang dia terima berkisar 1,5jt, Dia mulai mencoba untuk saving. Setelah disisihkan untuk bayar kost dan kebutuhan harian, tiap bulan dia disiplin untk saving sebesar 1jt.
Kebetulan NOC dari perusahaan dia, bertempat di gedung yang sama dengan tempat dia bekerja. Kalo lagi ndak sibuk dia minta ijin ama orang NOC untuk numpang liat mereka kerja. Istilah dia “ngernet”. Karena Edwin orangnya supel dan mudah bergaul, kalo dimintain tolong apa aja juga langsung jalan, jadinya temen-temen IT di NOC seneng aja kalo dibantuin ama Edwin. Kesempatan untuk bisa ngernet di NOC ini dimanfaatkan Edwin untuk belajar. Dari hasil googling artikel, tutorial dan e-book dari internet dia menganggap NOC semacam laboratoriumnya. Dia nggak berani ngutak-ngatik sih, cuman tiap kali orang NOC ngerjain atau troubleshooting sesuatu, dia berusaha untuk ngikutin dan cari referensi di internet.
Kesehariannya banyak waktunya dihabiskan habiskan di NOC, buat belajar. Jika sedang hari sabtu-minggu dan NOC lagi tidak ada orang lembur,…. karena dia nggak boleh berada di sana sendirian, waktunya dia habiskan dengan tidur. Kalo ditanya,…. ngapain sih kalo liburan mesti kerjaannya molor terus….. Alasannya sih biar hemat. Dengan tidur seharian, dia nggak banyak tergoda untuk jalan-jalan yang pasti ngurangi saving dia. Juga untuk urusan makan juga lebih hemat. Cukup makan siang aja sekali,… selebihnya tidur.
Setelah beberapa bulan, setelah dia merasa cukup punya saving dan yakin kalo bisa lulus test sertifikasi. Dia mulai daftar untuk ambil CCNA. Aku nggak tahu pasti berapa jumlah yang dia keluarkan waktu itu,….. yang jelas habis bayar…. dia ngomel–ngomel kalo harganya pada naik semua….. Ya iyalah bro…. yang tiap kali tambah turun khan cuman n@#$*….
Ternyata setelah mengambil test untuk pertama kalinya,…. Dengan ketawa-ketawa dia bilang ke kami kalo dia tidak lulus dengan sukses. Dia membela diri dangan mengutip sebuah quote
Orang yang kuat tuh, bukan berarti dia tidak pernah jatuh…. tapi gimana cara dia mampu berdiri lagi waktu dia terjatuh.
Okehh…. setuju aja prend.
Untungnya pihak penyelenggara test sertifikasi memberikan kesempatan kedua kalinya, walau dengan tambahan separuh harga……
. Setelah test untuk kedua kalinya, dia dinyatakan lulus. Akhirnya iimpiannya selama empat tahun terwujud.
Sesuai anjuran dari temen-temen di NOC, sertifikat yang sudah terpegang di tangan dia ajukan ke HRD untuk penyesuain jabatan dan salary. Setelah melalui beberapa proses administrasi perusahaan dan menunggu beberapa minggu, si Edwin mendapatkan promosi menjadi Junior Network Specialist. Beserta penyesuain salary, tunjangan, dan allowance. Lumayanlah ada tambahan buat beli makan malam.
Tapi beberapa bulan kedepan, ternyata gaya hidup dia tidak berubah. Dia tetap setia dengan makan sehari sekali dan tidur seharian di waktu liburnya. Mirip ular yang makan sekali, abis itu tidurrrr……. Sampai-sampai kami menyebut dia dengan panggilan Edwin “Ulo”.
Edwin emang bukan golongan orang pinter, cuman dia emang terkenal tekun dalam segala hal. Setelah beberapa tahun dia berhasil meraih sertifikasi MCSE, MCSD….. dan beberapa sertifikasi lain yang kalo disusun semua panjangnya ngalahin nama dia sendiri…… tahan tirakat juga tuh anak. Sampe akhirnya tahun 2005, saat aku ketemu dia sudah menjadi Assistant Manager for Enterprise Solutions, kalo nggak salah nama jabatannya itu. Dia cerita kalo menurut orang HR di indonesia, gajinya udah ketinggian untuk standar orang indonesia. Satu-satunya pilihan dia mesti pindah overseas. Dari info yang aku dengar dari temen-temen lain, tahun 2006 dia mendapat promosi ke branch office di singapura, dan kemudian mendapat kepercayaan sebagai IT Manager untuk kawasan Asia-Pasifik.
Beberapa bulan yang lalu, sebelum aku resign dari perusahaan lamaku, kami sempat bertemu di Jakarta. Biasalah, temu kangen yang diomongin ya ngalor ngidul dari sabang sampe merauke. Penampakan dia emang sudah jauh beda ama tahun 2003 waktu terakhir aku ketemu dia. Kemana-mana dianter sopir yang ready 24 jam dengan BMW 7series. Tempat tinggalnya juga udah pindah ke apartment di kuningan, bukan kost bulukan di Benhil lagi. Dan dia juga udah sukses menghajikan orangtuanya. Jian,…… mantap tenan cah iki.
Alhamdullilah, selamat buat kamu win…… akhirnya kesampain juga cita-citamu. Mungkin seperti fairy tale. Orang desa yang rumahnya separuh “gedhek” di bawah Gunung Katu daerah Wagir Malang. Lulus ala kadarnya dari kampus yang ala kadarnya juga. Ternyata dengan tekat keras dan stay focus pada apa yang dia impikan,…… dia sukses merubah IT dreams-nya menjadi kenyataan. Satu yang dia pernah bilang ke aku,…… mengutip dari film “The Secret”,…..
jack,….. anggap kamu setir mobil dari malang ke surabaya waktu malam hari. Lampu mobil khan cuman bisa menerangi jalan, paling ndak sampai 100 meter di depan. Padahal jarak Malang-Surabaya 100km. Tapi kamu tetep genjot tuh mobil khan?,… 100 meter demi 100 meter kamu lalui dengan kepercayaan,…. kalo 100km ke depan would be just fine. Yang penting kamu mesti keep focus dengan 100metermu kali ini. Kalo bisa lolos dengan sukses, 99900meter kedepan would be just like walk in the park. Stay focus my friend
Salut buat loe Win,…. and jangan lupa janjinya. Habis lebaran kita ketemu di Malang. Makan pecel sing peyek-e atos-e ndak umum di warungnya Mak Si deket kampus, abis itu ngopi di tempatnya Mak Mar….. terus nonton jaran kepang di Senaputra. Jangan lupa makan malemnya di warung pecel di Talun. Just like the old time…..

td nyari tentang ccna malah ketemu ini.
tp saya terharu bgt membacanya. semoga ini jadi penyemangat saya.
“Orang yang kuat tuh, bukan berarti dia tidak pernah jatuh…. tapi gimana cara dia mampu berdiri lagi waktu dia terjatuh”
semangat..semangat…
Keren bgt ceritanya…Inspiratif bgt